Peer Group
Pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang tidak mungkin hidup sendirian di dunia. Kehadiran teman menjadi kebutuhan yang tidak bisa dihindari. “Peer group” dan teman dekat memang penting. Namun teman bisa memberikan pengaruh positif sekaligus negatif.
Manusia melewati tahapan-tahapan tertentu dalam hidupnya. Pada usia remaja kemampuan berfikir mulai berkembang. Kita tidak lagi menelan mentah-mentah omongan orangtua. Kita mulai berfikir kritis, memperluas pergaulan, dan berpaling pada teman-teman sebaya yang kita anggap lebih mengerti gejolak emosi kita.
Ketika teman-teman bisa menghargai dan menerima kita apa adanya, timbul rasa senang jika berada di antara mereka. Tidak heran terkadang kita lebih senang menghabiskan waktu bersama teman daripada keluarga. Kita akan lebih menikmati kalau melakukan kegiatan bareng teman-teman dekat.
Karena itu di sekolah, di tempat kursus, atau di lingkungan tempat tinggal kita, biasanya ada kelompok-kelompok pertemanan. Mereka terdiri atas beberapa orang yang merasa punya ikatan kuat. Mereka kelihatan hampir selalu bersama-sama melakukan berbagai aktivitas. Kelompok-kelompok pertemanan inilah yang dinamakan peer group. Kita biasanya menyebutnya gang.
Peer group adalah sekumpulan remaja sebaya yang punya hubungan erat dan saling tergantung. Fenomena munculnya peer group memang tidak bisa dihindari. Ada banyak manfaat yang kita peroleh kalau kita punya peer group, misalnya untuk memperluas wawasan di luar keluarga, tempat curhat dan kesempatan mandiri tanpa diawasi orang tua atau orang dewasa lain.
Fungsi peer group
Salah satu fungsi peer group adalah mencari identitas. Masa remaja merupakan masa kita mencari identitas. Mau enggak mau, kelompok ikut campur tangan pada cara kita menilai diri sendiri. Dari berbagai pengalaman bareng gang-lah kita berusaha menjawab pertanyaan “Siapakah aku ?” Dan, berbagai pertanyaan seperti apakah kita suka fashion, musik rock, suka bertualang dan lain sebagainya.
Semua ini akan terjawab ketika kita merasa nyaman bersama suatu gang tertentu. Peer group sering kali mengatur cara kita berperilaku. Dari cara berpakaian, gaya rambut, jenis musik kesukaan, bahkan sikap kita terhadap orang tua walau enggak ada peraturan tertulis kalau gang kita harus begini atau begitu.
Apakah kita butuh kelompok sebaya? Tentu. Kita semua butuh penerimaan dan pengakuan. Kita butuh dukungan teman dan kenalan. Ada rasa nyaman dan memiliki. Itu adalah manfaat perasaan dibutuhkan dan disukai.
Peer Pressure
Peer pressure adalah desakan yang kuat dari sesorang atau beberapa orang teman untuk menyesuaikan diri dan menyetujui untuk berperilaku tertentu.
Ada dua macam peer pressure – positif dan negatif.
Peer Pressure positif adalah desakan yang kuat untuk menyesuaikan diri dan menyetujui untuk berperilaku tertentu yang biasanya lebih banyak manfaatnya bagi orang yang menerima tekanan kalau dia menerima desakan tersebut. Pengaruhnya bagi si penerima adalah positif. Misalnya, punya teman yang mendorong kamu untuk berusaha lebih keras di sekolah atau olahraga bisa bikin kamu bersemangat kalau kamu belum melakukan yang terbaik. Teman bisa mencegah kamu supaya nggak melalaikan kewajiban kamu dan menolong kamu waktu lagi bete.
Mereka bisa memotivasi serta mengarahkan kamu ke arah yang benar. Banyak anak berhasil meninggalkan minum, pakai narkoba, dan bahkan bunuh diri karena adanya kelompok sebaya yang penuh perhatian.
Peer Pressure negatif adalah desakan yang kuat untuk menyesuaikan diri dan menyetujui untuk berperilaku tertentu yang biasanya lebih banyak kerugiannya bagi orang yang menerima tekanan kalau dia menerima desakan tersebut. Pengaruhnya bagi si penerima adalah negatif. Hal-hal yang buruk bisa kelihatan menarik buat kamu, dan kelompok sebaya bisa bikin hal-hal itu kelihatan bagus.
Ada kekhawatiran tambahan bahwa anak-anak nggak bakal menyukai kamu atau bakal menyangka kamu orang luar atau orang aneh. Misalnya akibat pengaruh teman-teman sebaya, kamu sering cabut, merokok, dan minum – minuman keras walaupun kamu tahu itu perilaku yang tidak baik. Namun semua itu kamu lakukan kerena takut dianggap tidak setia atau tidak gaul oleh teman-teman apabila kamu tolak.
Dalam hal perilaku menyimpang, cowok memang lebih mudah terpengaruh teman dibandingkan dengan cewek. Tapi persahabat antara cewek juga membuat mereka rentan berperilaku sesuai peraturan peer. Cewek biasanya lebih ingin menjalin hubungan harmonis dan hidup sesuai harapan peer group-nya. Contoh mudahnya kelihatan dari cara berpakaian satu geng cewek yang nyaris serupa. Gara-gara satu geng suka ikut ketularan.
Apapun bentuknya, kelompok teman-teman dekat pasti akan mempengaruhi kita lewat waktu yang dihabiskan bersama. Kita sering belajar dari teman-teman dan mereka pun belajar dari kita. Ini sudah bawaan alami kita sebagai manusia.
Beberapa Taktik Peer Pressure
- Cara Mendiamkan
Kelompok mendiamkan, menolak untuk berbicara dengan seorang teman sampai teman tersebut melakukan apa yang diinginkan kelompok. Contoh, Susi menghadiri pesta kakak kelasnya, pada saat itu ia diajak memakai narkoba. Saat itu Susi menolak secara tegas. Keesokan harinya, semua teman yang datang ke pesta tersebut mendiamkan Susi. Setelah seminggu, salah seorang kelompok peer pressure memberitahu Susi bahwa ia tidak akan diajak bicara kecuali dia mau mencoba memakai narkoba pada pesta yang akan datang.
- Cara Kekerasan
Perlakuan kekerasan bisa dilakukan secara fisik atau dengan kata-kata kasar. Victor mengajak teman sekelasnya Diana minum alkohol dan mengisap ganja, tetapi Diana menolak. Yang terjadi kemudian, Victor mengajak Diana ke luar ruangan, memaki-maki dan menamparnya dan sejak saat itu Diana tidak berani lagi menolak setiap kali diajak meminum alkohol dan mengisap ganja.
- Cara ‘Setia Kawan’
Cara ini dilakukan dengan menunjukkan kesetiaan sebagai teman. Kesulitannya dibantu, uang dipinjami. Lalu karena pertemanan setia itu, ia diajak melakukan perbuatan tertentu seperti memakai narkoba. “Kalau kamu betul-betul teman setia juga seperti yang saya tunjukkan kamu jangan menolak ajakan saya”. Padahal yang diajaknya itu perbuatan negatif.
Berani Menolak
Bentuk peer pressure dari gang memang sangat kuat dan sulit ditolak. Beberapa eksperimen bahkan membuktikan tekanan gang mampu mempengaruhi seseorang untuk mengubah jawabannya yang semula ia katakan benar menjadi salah. Padahal ia tahu bahwa jawabannya benar.
Di sinilah muncul kecenderungan untuk berperilaku sama. Kita jadi takut berbeda karena takut diejek dan takut “dibuang” sama kelompok. Kenapa sih kita harus berusaha mencocokkan diri sama kelompok? Karena kita butuh adanya rasa keterikatan bersama orang lain. Kita butuh teman agar bisa survive di dalam kehidupan.
Di sinilah kekuatan prinsip kita diuji. Apakah kita cukup tangguh menolak hal – hal yang tidak sesuai atau justru ikutan terbuai? Cara gampangnya kita harus bisa membedakan tekanan geng yang positif dan negatif. Jika kelompok meminta kita memperbaiki perilaku kita yang salah dan berbuat baik, ini bisa dibilang positif.
Dilain pihak, biar pun peer punya pengaruh besar, kadang timbul dorongan-dorongan dalam diri buat berperilaku beda. Ini jelas sesuatu yang nggak bisa dihindari. Kita tetap ingin seperti orang biasa, tapi enggak mau kehilangan ciri khas. Kalau kita mau tampil beda dari geng, it’s okay. Bahkan keunikan ini bisa menambah PD kita.
Berperilaku beda dengan peer bukan berarti cap ”orang aneh” langsung nempel di kening. Malah berkat keunikan inilah kita terhindar pengaruh buruk teman dan bisa mengembangkan diri seutuhnya.
Namun perlu diingat, jangan sampai keunikan kita berbentuk sesuatu yang negatif dan melanggar norma masyarakat. Karena ujungnya kita tidak hanya dicap aneh, tapi juga dihukum aparat berwenang.
Siasat Menolak Tekanan Geng
Demi setia kawan kita rela mengorbankan banyak hal. Demi diterima kelompok, kita kehilangan prinsip. Lalu, siasat apa yang tepat agar bisa mengendalikan peer pressure sekaligus tetap banyak teman ?
1. Dengarkan kata hati
Apakah tujuan kita? Apakah keinginan kita? Apa saja tindakan yang menurut kita benar? Perilaku seperti apa yang kita anggap salah? Carilah jawabannya dalam hati kita. Mengetahui hal-hal mendasar ini akan membantu kita tetap berpegang pada prinsip ketika kita berada di bawah tekanan gang.
Contohnya, rencana kita mau berangkat ke sekolah, tetapi tiba-tiba kita diajak nongkrong sambil merokok. Maka, kita bisa bilang, Aku pingin belajar dan aku pingin sehat. Merokok itukan bisa bikin sakit, aku enggak mau. Dalam masalah ini lebih baik kita beda.
2. Kontrol diri
Sah-sah saja mengikuti peer. Namun kita harus tahu sampai di mana tekanan yang harus dihindari. Misalnya kita mau diajak ke dugem (dunia gemerlap seperti tempat hiburan, diskotik dsb. Namun ketika teman kita meminta kita untuk ikut minum-minuman keras dan narkoba, lebih baik kita tolak. Jangan sampai kita terjerumus hanya untuk menuruti kelompok. Kalau jelas-jelas efeknya jelek, untuk apa kita ikutan? Kalau kita nurut terhadap ajakannya, itu sama tololnya dengan menuruti anjuran teman untuk terjun ke jurang dan kita celaka.
3. Percaya diri
Hidup kita ada di tangan kita, bukan pada orangt lain. Jangan sampai orang lain menggoyahkan diri untuk melanggar prinsip yang kita yakini benar. Justru dengan menunjukkan rasa PD ini, orang lain bakal menghargai kita. Kita bisa bilang, sebenarnya aku bisa mengikuti kamu. Tapi kalau enggak sesuai dengan keyakinanku, enggak bakal aku ikuti.
4. Cari dukungan
Bila kita sudah sangat kewalahan menghadapi peer pressure, curhat saja ke orang lain yang bisa dipercaya. Contohnya ortu, guru, atau teman lain. Kita bisa melepaskan unek-unek sekaligus minta dukungan.
5. Tetap bergaul
Jadi beda bukan berarti langsung menjauhi teman-teman karena menganggap enggak ada yang mengerti kita, tetap pelihara hubungan pertemanan kita sama orang banyak. Pasti di antara sekian banyak orang bakal ada yang cocok dengan kita. Bahkan kita juga enggak tergabung pada gang tertentu, tapi punya teman-teman dari segala penjuru. Kita justru akan dicap aneh kalau enggak mau berteman dan beradaptasi.
6. Kuatkan hubungan dengan ortu dan keluarga
Jangan ragu untuk berkomunikasi sama ortu dan anggota keluarga lainnya. Karena akan membekali kita dengan nilai-nilai yang dianutnya. Ini membuat kita lebih kuat menghadapi peer pressure yang negatif plus mengurangi ketergantungan terhadap kelompok.
Saran-saran yang mungkin bisa membantu untuk menghadapi tekanan kelompok sebaya :
1. Pikirkanlah tindakan apa yang diinginkan kelompok dari kamu.
Apapun yang yang mereka katakan padamu, jangan bertindak berdasarkan insting sesaat. Pikirkan maksud sebenarnya di balik kata-kata mereka.
2. Pikirkan apa yang bisa terjadi
Ada pepatah mengatakah, ‘nasi sudah menjadi bubur’. Maksudnya kalau nasi sudah masak dan menjadi bubur tidak bisa lagi dikembalikan menjadi beras. Kalau kita sudah terlanjur mengikuti ajakan teman memakai narkoba, kecanduan, kita tidak bisa lagi mundur ke belakang seperti ketika belum memakai. Kalau kamu melakukan suatu perbuatan pikirkan akibatnya jauh ke belakang. Mungkin saja kalau akibat sesaat tidak ada, tetapi dalam jangka panjang berakibat fatal.
3. Jadikanlah dirimu sendiri sebagai pusat pertimbangan terakhir, bukan orang lain, apalagi teman yang belum tentu mengerti apa yang terbaik untuk kita